
Alkisah ada sebuah cerita tiga orang yang terperangkap dalam sebuah gua karena mulut gua tertutup reruntuhan batu. Utk mendapat pertolongan Allah agar dapat keluar dari gua tersebut, masing-masing dari mereka mengungkapkan perbuatan baik yang pernah mereka lakukan dengan ikhlas. Setiap salah satu dari ketiga orang tersebut selesai berdoa, batu pun bergeser sehingga akhirnya mereka bertiga dapat keluar dari gua itu dengan selamat.
Salah satu dari ketiga orang tersebut menceritakan keikhlasannya dalam berbakti kepada orang tua. Dalam doa kepada Tuhannya, ia bercerita bahwa pada suatu hari ia pernah membawakan susu ke rumahnya. Tetapi setelah sampai di rumahnya, orang tuanya telah tertidur sehingga ia pun duduk di samping tempat tidur orang tuanya dan menunggu sampai mereka bangun. Padahal saat itu juga, anak-anaknya merengek dan menangis meminta susu tersebut dan tidak ia beri karena ia ingin orang tuanya minum terlebih dahulu. Hal itu ia lakukan ikhlas semata-mata karena ingin memuliakan orang tuanya. Persis setelah ia menceritakan hal itu, maka batu yang menghalangi mulut gua pun bergeser.
Rasullulah SAW pernah menunjuk pada seorang pemuda dan mengatakan pada para sahabat, “Lihatlah, ia bukan penduduk bumi melainkan penduduk langit,” yang artinya Tuhan mengangkat derajatnya begitu tinggi karena perbuatan baik yang ia lakukan. Para sahabat bertanya-tanya kiranya apa yg telah dilakukan si pemuda itu sehingga ia bisa mendapat derajat yang begitu mulia di mata Allah? Para sahabat pun mulai menyelidiki si pemuda tersebut. Setelah diselidiki ternyata pemuda itu mempunyai seorang ibu yang telah tua renta. Karena ibunya telah sangat tua dan mereka cuma tinggal berdua maka si pemuda tersebut hanya menggembala kambing dan merawat ibunya sampai ibunya meninggal. Padahal para pemuda sebayanya kebanyakan pergi berdagang sampai jauh ke kota hingga negara lain, tetapi ia tidak melakukan itu karena tidak ada yang akan merawat ibunya bila ia pergi. Bahkan ia pun sampai tidak sempat menikah karena merawat ibunya. Barulah setelah ibunya meninggal ia dapat berkeluarga. Karena keiklasan dan baktinya itulah, Allah mengangkat derajatnya begitu tinggi, yaitu menjadi orang yang sangat dikasihi Allah SWT.
Berbakti kepada kedua orang tua, terutama ibu sungguh sangat besar fadilahnya. Saking besarnya fadilah tersebut, maka kebaikan yang kita lakukan kepada ibu tidak bisa lagi kita ukur-ukur. Pernah suatu hari ada seseorang datang mengadu kepada Rasullulah SAW dan berkata, “Ya Rasul… Saya mempunyai ibu di rumah yang suka sekali ngomel dan memarahi saya. Padahal semua kebutuhannya saya yang memenuhi.”
Lalu Rasullulah SAW pun berkata, “Seandainya dicincangnya dagingmu pun, tidak akan terpenuhi seperempat hak ibumu.”
Mendengar jawaban itu, orang itu pun terdiam. Artinya, apalah arti omelan dan kemarahan seorang ibu, karena toh hak seorang ibu kepada anaknya begitu besar.
Sungguh indah cerita mengenai bakti kepada orang tua. Memang tidak selalu sikap orang tua itu menyenangkan hati anak dan sikap anak menyenangkan hati orang tua, tetapi bila seorang anak dapat dengan ikhlas berbakti maka si anak biasanya akan mendapatkan banyak keberuntungan dalam hidupnya.