
Akhir-akhir ini yang namanya homeschooling sedang hangat dibicarakan orang. Apalagi ketika mulai banyak artis yang memilih untuk bersekolah di rumah karena kesibukannya yang padat, membuat homeschooling ini menjadi pembicaraan hangat. Selain itu banyak kalangan mampu yang merasa kecewa dengan kurikulum pendidikan yang ada dimana kurikulum tersebut dirasa terlalu membebani siswa dengan berbagai teori dan hafalan tetapi tidak mengasah kreatifitas, sehingga kemudian banyak dari mereka yang akhirnya memutuskan untuk menyekolahkan sang buah hati di rumah saja.
Kelebihan homeschooling ini mungkin pada bahan pelajaran yang disesuaikan dengan minat siswa, sehingga memang tidak dapat dipungkiri banyak pula anak-anak cerdas yang lahir dari homeschooling ini.
Masalahnya sekarang bagaimana dengan EQ anak? Seperti yang kita ketahui, IQ (Intelectual Quotient) tidak lagi menjadi faktor utama dalam mencapai kesuksesan, ada faktor lain lagi yang disebut EQ (Emotional Quotient) atau dengan kata lain Kecerdasan Emosi. Sekolah umum secara tak langsung telah ikut membantu mengkondisikan anak untuk belajar bersosialisasi, bertoleransi, berkompetisi, mengikuti aturan yang berlaku, hingga kemampuan bertahan dalam menghadapi guru yang mempunyai berbagai sifat dan prilaku, serta hal-hal umum lainnya yang lazim ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika berbicara mengenai homeschooling ini, yang terlintas di benak saya adalah sebuah kisah tentang seorang raja yang ingin anaknya mendapatkan pengajaran agama langsung dari seorang ulama tersohor di sebuah negeri. Sang raja tersebut meminta sang ulama untuk datang ke kerajaan secara teratur demi mengajarkan ilmu agama terhadap sang putra mahkota. Namun ulama tersebut menolak dengan mengatakan, “Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi. Jika kau mau anakmu belajar ilmu agama, suruhlah ia datang ke majelis ilmu di masjid seperti anak-anak lainnya.” Entah rahasia apa yang ada dibalik filosofi mendatangi majelis ilmu dan bukannya mendatangkan ilmu, tapi saya yakin pastilah banyak manfaat dibaliknya, apalagi hal tersebut diucapkan oleh seorang ulama besar sekelas Imam Al Ghazali yang kitab-kitabnya terus dibaca orang hingga ratusan tahun setelah wafatnya.
Dari situlah kemudian saya merasa bahwa sekolah umum tetap dapat menawarkan berbagai macam kelebihan yang tidak dimiliki oleh homeschooling. Walaupun kurikulum yang ada saat ini apalagi dengan ditambah faktor Ujian Nasional membuat banyak orang frustrasi dengan sistim pendidikan yang ada, sekolah umum masih tetap bisa menjadi majelis ilmu sekaligus kawah candra dimuka bagi perkembangan kecerdasan emosi anak.