Saya pernah membaca di suatu majalah seseorang yang bertanya kepada seorang ulama mengenai bagaimana mengetahui bahwa seseorang itu, atau seorang ustadz misalnya, sabar atau tidak. Sang ulama tersebut berkata, “Gampang saja untuk mengukur seorang ustadz itu sabar atau tidak. Kalau dia sedang berkhutbah mengenai kesabaran, buang aja sandalnya. Kalo dia marah ya berarti dia baru tau ilmu tentang sabar, tetapi belum bisa sabar, apalagi kalo kemudian ketika marah pake mengeluarkan dalil yang menakut-nakuti seperti; dosa lho… sandal ustadz kok dibuang.”
Sederhana sekali ternyata untuk mengukur kadar kesabaran seseorang. Karena kesabaran itu ternyata memang lebih mudah sekaligus lebih enak untuk diomong daripada untuk diamalkan. Sehingga pernah juga sebuah tulisan yang mengatakan, “Orang baik itu bukanlah orang yang banyak menyampaikan ilmu, tetapi orang baik itu adalah orang yang dapat mengamalkan ilmu yang dimilikinya walaupun ilmu yang ia miliki tersebut hanyalah sedikit.”
Kesabaran memang tidak mudah rupanya untuk didekati atau bahkan untuk begitu saja dimiliki, karena sekarang yang namanya Pak Sabar kan sudah mempunyai istri…he..he..he…(itu sih sabar yang lain kaleee). Untuk bisa sabar, mungkin rasanya memang kita perlu meminta langsung kepada “Bos” yang terkenal Maha Sabar agar ditolong untuk dianugerahi kesabaran. Lagipula berdekat-dekat dengan Yang Maha Sabar sepertinya bisa membantu membuat kita ketularan sabar.
Namun sayangnya kebanyakan dari kita biasanya hanya pandai bersabar dan fasih menasihatkan kesabaran hanya ketika tiba saatnya harus membayar hutang ataupun membayar honor orang-orang yang telah bekerja untuk kita. “Sabaaar…. Nanti saya lunasi deh hutangnya... " atau "Sabaaar... Nanti juga akan saya bayar kok honornya…” Jadi... hanya dengan menunda melunasi kewajiban untuk membayar hutang ataupun honor orang tepat pada waktunya sudah dapat membuat kita otomatis berhasil menjadi orang yang paling (laaah…ada curhat colongannya ternyata… )