Blog EntryPuisi: Ular Kundalini dalam DiriApr 5, '08 8:19 PM
for everyone

Diambil dan disarikan dari Kompas, 5 April 2008

Oleh: Wayan Sunarta


Puisi dan kehidupan adalah sebuah teks. Keduanya berkelindan dalam kepala setiap pembaca yang melahirkan beragam tafsir, sesuai dengan ketelitian dan kekuatan pembacaan. Tidak ada tafsir tunggal. Setap pembaca sah menafsirkan teks, puisi dan kehidupan. Dengan penasiran itu ia menjalini apa yang diyakininya.

Dari setiap penafsiran itu pula puisi menemui jalan hidupnya sendiri ketika ia diserahkan dengan ikhlas kepada khalayak dan sang penyair sendiri mati, dengan indah atau penuh kecemasan. Sebuah puisi bisa bernasib malang di tangan redaktur sastra karea dianggap tidak layak muat atau menjadi mujur ketika dimuat atau dibukukan dan diapresiasi pembaca dengan penghargaan tinggi. Puisi bisa pula bernasib tragis ketika ia diberangus karena dianggap menghina agama atau kekuasaan. Nasib puisi sama halnya dengan nasib manusia. Jalan hidup puisi adalah ketidakterdugaan.

Yang dirindu puisi hanyalah rasa cinta dan kasih yang tulus yang jauh dari kesewenang-wenangan, pemaksaan kehendak, arogansi atau bentuk-bentuk penghakiman lainnya. Sebab pada intinya puisi mencintai dirinya sendiri, sekaligus pembacanya. Puisi memberikan ruang untuk keberagaman, untuk perbedaan yang diharapkan akan membangun penghargaan terhadap kemanusiaan kita. Tidak ada tafsir absolut terhadap puisi. Puisi memiliki jiwa yang berbeda dengan prosa. Puisi adalah kejujuran hati, sedangkan prosa adalah permainan dari kejujuran itu. Puisi adalah matahari, sedangkan prosa adalah permainan cahayanya bulan.

Puisi memberi kita banyak hal untuk belajar tentang kehidupan, keindahan sekaligus kepedihannya. Puisi berhutang pada kehidupan, dan kehidupan berhutang pula pada puisi. Namun sesungguhnya mereka saling melengkapi satu sama lain.  Pemberangusan, pencekalan, penindasan, atau pembredelan tidak akan melemahkan puisi dan kehidupan, Justru mereka semakin kuat untuk bersenyawa.

Kekuatan dan kemenangan puisi adalah justru karena ia menjadi bara yang bersemayam dalam jiwa setiap manusia. Puisi mampu menghangatkan hati, atau menghanguskan hati. Puisi seperti Kundalini, ular mistik yang terlelap dalam cakra dasar manusia. Manusia yang peka adalah pawang bagi si ular Kundalini.  Membaca puisi dalam diri adalah membaca semesta kehidupan. Mencintai puisi adalah mencintai kehidupan. Sebab, kehidupan adalah puisi yang sesungguhnya.


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help